Kamis, 16 Februari 2012

Indahnya Sepertiga Malam

dan malam pun terus berjalan..semakin gelap....namun dipuncaknya akan menggantung indahnya cahaya fajar....
di antaranya da sebuah waktu spesial yang dikhususkan bagi mata yang terjaga karena rindu pada Tuhannya...bagi hati yang tertunduk di malam hari karena kesombongan di sepanjang siang.....bagi lidah yang bertasbih bermunajat setelah seharian berkel...uh kesah, bagi akal yang merindu fitrah rabbaniyah setelah sekian lama tertutup debu duniawi........
inilah dia sahabat.... indahnya SEPERTIGA MALAM.....waktu spesial, hanya ada dirimu dan Tuhanmu serta serdadu malaikat yang terkagum2.."
readmore »»  

Senin, 08 Agustus 2011

……………DAN LANGITPUN TETAP TERSENYUM


Awan mendung menari diatas langit diiringi dengan dentuman suara petir menyambar tanda akan turunnya hujan pada pagi itu. Nisa, seorang aktivis yang dikenal paling ceria diantara aktivis yang lain tampak murung, pikirannya entah kemana, suasana mendung langit tergambar dari raut wajahnya.
“Anti lagi ngapain?” tanya Fia
“Menanti sebuah senyuman dari atas langit”
Jawab ku mantap. Kulihat Fia malah bengong. Entah ngeh atau nggak dengan jawabanku tadi.
“Yuk, sholat Dhuha dulu. Mungkin Pak Yazid emang nggak ngajar hari ini, apalagi mau hujan”
Kutarik tangannya, berjalan dengan tergesa menuju Mushola kampus. Kulihat, raut mukanya masih terlihat bingung. Kubuyarkan semua itu dengan senyuman. Ah, kelak Fia juga akan tau, apa yang aku rasakan selama ini. Batinku.
***
“Nisaa…..” teriak kakak perempuanku
Dengan malas aku gerakkan tubuh ini menuju dapur
“Lu kemana aja ? kerjanya krluyuran trus. Ngga lihat apa piring kotor menumpuk belum lu cuci !!!”, Sifat kakakku keluar.
Hati ku sakit. Sering kali kakak ku berkata kasar seperti itu. Tapi aku bisa apa? Aku hanya seorang adik yang harus patuh sama kakaknya. Kuraih satu persatu tumpukan piring yang ada di dapur dengan mata menahan air mata.
Hati ku bergemuruh. Sabar, Nisa!! . Teriak hatiku.
Dan aku pun mulai mencuci satu persatu piring yang kotor itu dengan berlinang air mata.
Selesai mencuci piring, aku beranjak kembali ke kamar dan meraih buku agenda dan membaca kembila agenda yang sudah kutulis tadi malam. Baru saja aku asyik dengan aktifitasku, suara itu kembali terdengar di telingaku.
“Nisaa…..ada telepon!!” teriak kakakku kembali
aku langsung beranjak, bergegas menuju ruang tengah.
“Lu ngga denger ha?”
“Maaf kak, tadi Nisa lagi di kamar.” Jawabku. Ku ambil gagang telpon yang disodorkannya
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam. Nisa?” Tanya suara di seberang sana.
Yaa Robb. Akhi Iqbal. Sang ketua LDK di kampus ku. Aku malu sekali. Pasti dia dengar kata-kata kasar kakak ku tadi. Buat ia mengerti, yaa Robb.
“Iya. Ada apa, Akh?”
“Ada surat undangan dari Rohis SMUN 2, mereka minta beberapa akhwat untuk jadi pemateri di acara rihlahnya Rohis mereka. InsyaAllah, pesertanya akhwat semua. Ukhti bisa, kan?”
“InsyaAllah, Akh. Hari apa, ya?” tanyaku.
“Besok. Makanya ana telpon ukhti langsung. Bisa, kan?”
“Iya, InsyaAllah”
“Alhamdulillah. Jazakillah ya, Ukh. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” jawabku lemas.
Semoga saja Akh Iqbal tidak menceritakan kepada ikhwah lain tentang apa yang barusan ia dengar. Lisan kakakku yang tidak terjaga. Aku malu. Karena aku adalah seorang aktifis. Aku gagal mewarnai keluarga ku dengan kehidupan yang Islami. Sebuah tugas yang amat sulit.
Titut….titut…titut….
Tergesa langkah ku menuju kamar. Aku paling senang jika mendengar nada itu.
ada SMS masuk.
“Ketika qt berharap kekuatan dr Allah. Maka Allah akn membrikan bnyak ujian u/ kt. Tp dr ujian itu, Allah mencetak qt mnjd manusia yg kuat. Ktika qt berharap cinta dr NYA. Maka Allah akn membrikan utusanNYA yg bermslh dlm hal cinta. Dan qt lah yg membri mreka cinta. Dr st qt akn tau, btp diri qt sdh diliputi bnyak cinta. Hnya sj, qt tdk pandai mensyukurinya. Ana mencinta ukhti krn Allah. Fia”
Aku tertegun. Darahku mengalir lebih lamban. Mataku panas.
Tes. Satu titik air bergulir dari kelopak mata ini. Ampunkan hamba, yaa Robb. Sudah banyak nikmat yang hamba kufuri. Hamba bersyukur, Engkau mempercayai hamba untuk mengkondisikan keluarga ini. Beri hamba kekuatan, yaa Ghofar.
Titut….titut…titut… kembali terdengar nada SMS masuk. Cepat kubuka kembali.
“Asw…Indahnya hdup bkn trletak pd sbrpa bnyak orng mngenal qt tp sbrp bnyk org yg bhgia ktka mngenal qt & ana bhgia tlah mngenal mbak, Mbak…ana uhibbuki fillah”
SMS dari Farah, adik tingkatku yang juga satu departemen denganku. Aku kembali menitikkan air mataku.
***
Cuaca pagi dikota itu memang masih sejuk bila angin berhembus, mendung namun hujan tak kunjung turun, sudah satu minggu ini kota Lubuklinggau setiap pagi selalu dibalut awan mendung yang amat sangat. Nisa beserta rombongan menuju kaki bukit sulap, lokasi Rihlah akhwat-akhwat SMUN 2.
“Mbak Nisa punya kakak, ngga?” Tanya seorang akhwat Rohis SMUN 2
Belum sempat aku menjawab, sudah ada lagi yang bersuara
“Pasti kakaknya sholihah juga ya? Sama kayak mba’ Nisa dan yang lainnya” kata mereka polos
Tak urung ku aminkan juga pertanyaan itu. Aku hanya bisa tersenyum.
“Gimana sih mbak biar kita bisa jadi mujahidah yang tangguh, seperti cerita mbak tadi?” yang pake jilbab biru bertanya dengan semangatnya duduk disamping kananku.
“iya, mbak. Kita pengen banget bisa menjadi mujahidah tangguh seperti yang mbak sebutkan tadi. Apalagi bisa dicemburui oleh bidadari-bidadari surga. Waaa.. bisa nggak ya, mbak?” yang jilbab coklat terlihat ekspresif.
“iya nih mbak. Jujur aja ya, mbak. Aku pingin banget jadi sosok muslimah cerdas dan kuat. Apalagi semangat mbak subhanallah, kita pingin dech kalau kuliah nanti jadi akhwat kampus yang punya kinerja dan loyalitas terhadap dakwah kampus kayak mbak. Pastinya keluarga mbak banyak berperan membentuk karakter mbak yang begitu kan?” yang jilbab biru kembali menimpali.
“yaa.. iyalah, masa’ ya iya dong hehe…” si jilbab coklat sedikit bercanda. “Mbak Nisa aja sholihah. Apalagi kakaknya!” yang jilbab hijau bersuara.
Aku hanya bisa menanggapi semua celotehan adik-adik SMU itu dengan senyuman. Andai mereka tau, betapa sulitnya ketika harus berdakwah dengan keluarga. Medan tersulit yang harus dihadapi oleh seorang kader dakwah. Aku lebih memilih mengkondisikan berpuluh Rohis SMU daripada mengkondisikan keluarga. Tapi, inilah kewajibanku, tantangan yang harus aku jalani dan aku menangkan dalam setiap skenario Allah swt.
“kalian semua bisa kok, dek. Kalau kalian sungguh-sungguh. Luruskan kembali niat. Kita berubah semata-mata karena Allah. Bukan karena siapapun” kupandangi satu-satu wajah manis di depanku. Betapa bahagianya hati ini jika selalu berada dalam komunitas di mana terdapat insan-insan yang mencintai saudaranya karena Allah. Hentikan saja waktunya, yaa Robb. Rasanya hamba tak mau kembali ke rumah. Ah, dhoif sekali diri ini.
***
“Kemana aja lu!! Dari pagi kerja lu cuma keluar rumah.” ditariknya jilbabku.
“maaf, kak. Tadi ada ujian di kampus. Jadi ngga bisa cepat pulang” kataku memelas. Setengah merintih menahan sakit.
“lu emang ngga ada manfaatnya ya. Percuma aja lu pake jilbab besar, kemana-mana kayak ninja. Sok alim, tapi ngga nurut sama perintah orang tua itu namanya BEJAT. Tolol !!!” di dorongnya tubuhku.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berantem? Kalian kan sudah besar, malu didengar tetangga” bunda tiba-tiba keluar dari kamar, dan melihat ku terjatuh.
Kak Dina langsung membanting pintu kamar.
“Dia yang melawan, Bunda, dia nggak nurut sama perintah kakaknya, bisanya cuma keluar rumah!!” teriaknya dari dalam kamar
“kamu juga, sih. Ngga nurut apa kata kakak mu. Kalo disuruh itu ya nurut, dilaksanakan. Jangan melawan. Pusing kepala bunda kalo kalian ribut terus setiap hari. Malu sama tetangga”
Bundapun ikut menyalahkanku, bunda tak bisa berbuat banyak akan kelakuan kakakku yang kasar itu. Aku selalu di pihak yang salah. Entah, apa yang membuat kakakku begitu kasar padaku. Dulu ia tidak seperti itu, tapi sejak aku aktif dalam organisasi dakwah kampus dan sering kali mengikuti kegiatan di luar kampus, ia berubah total. Dulu, ia tak pernah ambil pusing ketika aku ikut organisasi Pramuka, ia malu punya adik yang menggunakan jilbab besar, apalagi jika teman-temannya kerumah terutama yang cowok. Bunda cuma bisa diam dan cenderung mengalah setiap kak Dina mulai memancing keributan. Mengalah untuk menang, itu dalih bundaku.
Hatiku sakit. Aku seorang aktifis dakwah, yang ketika di luar begitu dikagumi banyak adik-adik binaanku. Seperti kata Fia di surat yang dia berikan ketika hari lahirku. Ana sangat bersyukur dikaruniakan oleh Allah sosok saudara seperjuangan yang begitu mengerti, sholihah, cerdas, tangguh, kuat dan yang membuat ana semakin kagum adalah sifat peduli mu terhadap sesama. Ukhti bisa bersikap sangat ramah dengan siapapun, selalu terlihat ceria. Seperti tak ada masalah di hatimu yang luas itu. Ukhti, tetaplah menjadi saudaraku. Terakhir, semoga umurnya berkah dan selalu dilindungiNya. Amin.
Kutarik nafas dalam-dalam.
Fiuh.
Aku sosok yg kuat? Ah, entah lah, apa betul begitu. Buktinya sekarang aku terlihat sangat lemah. Setiap aku kembali ke rumah setelah melakukan perjuangan di luar. Kekuatan ku seperti menguap tak berbekas. Aku kembali menjadi sosok yang pendiam dan tertutup. Bertolak belakang sekali dengan karakterku di luar. Semoga Allah meridhoi semua apa yang aku lakukan. Termasuk sekarang, aktifitas yang rutin aku tunaikan, duduk di sebelah jendela, menatap langit. Sambil berharap, langit kan tersenyum menghapus semua kegundahan yang aku rasakan. Tapi nyatanya, aku tetap berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
***
Minggu pagi. ada acara Tatsqif Muslimah, aku sebagai ketua pelaksana mulai sibuk sejak pagi, mengkoordinir semua anggota untuk mempersiapkan acara yang akan dihadiri oleh semua muslimah yang termasuk dalam LDK di kampusku.
Ketika peserta mulai berdatangan, aku melihat sosok yang amat aku kenal. Jantungku tiba-tiba berdebar hebat. Dadaku sesak. Firasat jelek sudah menguasai semua dinding hati.
“Ngapain lu disini? Merasa hebat sudah jadi aktifis besar? Ngga tau malu, lu!!”
kak Dina menarik tanganku. Semua mata langsung tertuju ke kami. Aku malu.
“Kita ke sana aja, kak” kataku mencoba tenang. Tapi mata ini sudah mulai panas. Agak kutarik tangannya supaya menjauh dari tempat acara.
“apa-apan, lu” ditepisnya tanganku.
“Lu emang ngga tau malu. Gue tadi kan bilang lu jangan pergi sebelum lu selesai beresin rumah. Kenapa lu langsung pergi, tanpa pamit pula. Sudah merasa hebat pula. Sejak kapan lu berani seperti ini, sejak lu ikut-ikutan seperti temen lu itu. Udah berani melawan rupanya, apa itu yang diajarkan sama organisasi lu itu?! HAH?!!” bentaknya. Semakin membuat situasi mencekam. Tak ada yg berani mendekat. Tuhan, apa yang harus hamba perbuat.
“Tadi aku sudah pamit sama bunda, kak. Semua sudah aku bereskan. Hanya memberi makan kucing yang belum. Tapi aku sudah menyuruh Ega untuk memberi kucing itu makan. Aku takut telat, kak. Di sini ada acara” kataku pelan.
“gue lebih sayang dengan kucing dari pada dengan elu. Lu seneng kan kalo kucing-kucing gue mati?! Dan itu jelas kerjaan lu belum beres. Masih melawan lu?” didorongnya tubuhku. Untung tidak terjatuh. Tapi beberapa akhwat sudah ada yg menahan suaranya. Kaget.
“tapi, aku takut telat, kak aku punya kewajiban disini”
“banyak omong lu. Emang urusan gue? lu mau telat ato ngga? TERSERAH, jadi lu lebih milih acara ini daripada keluarga lu!! Lu emang dah kelewatan. Ini kerjaan lu??? Apa manfaatnya?? Apa disini lu dapetin gaji, bisa ngasih makan lu” ditatapnya sekeliling
“gara-gara jilbab lebar ini lu jadi melawan sama gue. HAH!!” tiba-tiba tangan kak Dina menarik paksa jilbab ku. Hampir terlepas, jika tidak dilerai oleh akhwat yang lain, mungkin keadaanku semakin mengenaskan. Ku pegang erat jilbabku. Jangan sampai aurat ini terlihat oleh yang tidak berhak.
“sudah-sudah… jangan diteruskan. Kita selesaikan secara baik-baik” kata mbak Icha menenangkan.
“ikut campur, lu. Gue ngga punya waktu!! Awas lu ya..” jari telunjuknya mendorong kepalaku ke belakang. Aku hanya bisa menangis. Malu dan sakit.
“urusan kita belum selesai. Kalo ngga banyak manusia sejenis lu di sini. Dah abis lu gue pukul”
Asstaghfirullah, dosa besar apa yang telah hamba lakukan, yaa Robb. Hingga dengan cara ini hamba harus membersihkan diri. Beri hamba kekuatan. Tanpa itu, entah dengan apalagi hamba bertahan hidup. Kulihat kak Dina berlalu. Lega.
Aku langsung dibawa ke sekretariat. Acara tetap dilaksanakan. Entah apa yang berkecamuk dalam hati mereka. Sedih kah? Kasihan kah? Peduli kah? Ah, entahlah.
“anti kenapa ngga cerita kalo punya saudara seperti itu? Paling ngga kita bisa kasih anti keluasan waktu. Dari pada begini, aib anti terlihat oleh semua orang. Tapi sudahlah, semua sudah terjadi” sesal mbak Icha. Pengurus LDK periode tahun lalu.
“ana ngga ingin beban ini malah memberatkan saudara yang lain, mbak. Biarlah ana sendiri yang merasakannya. Beban mereka sudah terlalu berat, amanah dakwah yang mereka emban sudah menyita waktu dan fikiran. Toh, ini masalah pribadi ana. InsyaAllah jika ini sudah kehendakNya, maka semua bisa dilewati” kataku mencoba bersikap bijak. Biarlah, keikhlasan dan kesabaran ini menjadi tabungan amal buatku.
“Maafkan ana, mbak. Mungkin ana sudah mencoreng nama LDK kampus karena peristiwa tadi. Tapi semua terjadi di luar kehendak ana. Maafkan yaa, mbak” tambahku disela isak yang tertahan. “ya sudah, sabar ya, dik. Allah yakin, adik bisa melalui ini, bukankah Allah tak pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya? Yang tenang ya. Innallaha ma’a shobirin. Jangan merasa kesepian, berbagilah dengan saudara yang lain, biar beban yang adik rasa tak terlalu berat. Adik sudah menjadi uswah di kampus ini. Tetaplah berjuang, dakwah membutuhkan kader-kader tangguh seperti adik. Adik tau? Kami sangat mencintai adik” mbak Nopi langsung memelukku. Pecahlah tangisku disana.
Indah sekali ukhuwah ini, yaa Robb. Kenapa aku masih ragu untuk berbagi dengan mereka? Padahal mereka begitu peduli dengan apa yang aku rasa. Cintai mereka, yaa Robb. Ikatkan hati kami di jalan mulia ini. Amin.
***
Fia menemaniku di sekretariat, ia memelukku erat setelah kejadian itu seolah ingin memberikan kepadaku kekuatan. Aku bahagia punya saudara seperjuangan seperti Fia.
“Kuat ya, Nis. Allah sayang sama anti. Semakin tinggi kedudukan seorang hamba, maka semakin kencang angin ujian berhembus. Ana yakin anti bisa melalui fase ujian ini dengan baik. Nisa sang mujahidah tangguh gitu lho!!”
“ana mencintai anti karena Allah…”
Fia… aku bukan sekedar mencintaimu di dunia. Tapi aku sangat berharap, kelak di akhirat kita saling bergandeng tangan bersama Rosulullah. Kita saling menguatkan ya, melewati ujian Allah ini. Tapi tenanglah, Allah selalu bersama kita. Tetaplah tegar, seperti mujahidah yang aku kagumi. Ujarku dalam hati. SubhanAllah, mesra sekali ukhuwah ini. Teruslah ikatkan hati kami dalam naungan cintaMu yaa Robb.
***
Hari ini acara Jalatsah Ruhiyah dadakan nih. Semua pengurus akhwat dakwah kampus berkumpul di taman kampus. Semalam, Fia memberiku informasi via SMS. Dan ternyata agenda hari ini evaluasi dan introspeksi serta curhat. Aku hanya bisa diam..
Acara berjalan khusuk, tak terasa air mata mengalir, kami saling menggenggam jari. Saling merangkul, saling berbagi, saling menasihati. Kami saling menceritakan semua kondisi pribadi dan keluarga kami pada forum ini. Air mata terus mengalir, ternyata bukan aku saja yang memiliki problem keluarga tapi juga Fia sahabatku. Fia menceritakan semua yang terjadi. Semua tak menyangka kalau Fia sang staf departemen kaderisasi itu mempunyai segudang masalah di rumah. Akhirnya kami menyadari bahwa ukhuwah yang kami rasa cukup itu ternyata amatlah gersang. Segersang hati kami ketika kami tak mengetahui bahwa saudara seperjuangan kami menderita. Dan sekarang, kegersangan itu kami siram dengan nasihat dan rasa ikhlas. Semoga hati kami yang tandus ini berubah menjadi lahan subur untuk menumbuhkan rasa cinta dan empati kepada saudara.
Satu pelajaran indah yang aku petik, semua harus disyukuri, apapun yang terjadi. Karena itu sudah kehendakNya. Dan semua akan terasa lebih ringan jika kita saling berbagi.
Begitu indah komunitas ini. Kenapa tidak dari dulu aku berbagi?
Ternyata, bukan hanya kami berdua yang punya segudang masalah, ada Fira, Syita, Aisyah, banyak lagi.
“Hidup memang sunnatullahnya begitu. Istirahatnya para mujahid adalah di surga. Kita hanya akan berhenti ketika langkah kaki kita menginjak pelataran surga” begitu kata Mbak Icha ketika menenangkan kami.
“Ketika kita berhasil menyelesaikan beberapa masalah, maka akan banyak lagi masalah yang menuntut penyelesaian. Begitu seterusnya. Semakin tinggi derajat kita dihadapan Allah. Semakin berat ujian yang Allah beri sama kita. Berbahagialah bagi yang merasa bahwa ujian hidup ini sangat berat, barangkali orang tersebut derajatnya di hadapan Allah sudah sangat tinggi. Tapi yakinlah, Allah tidak akan menyulitkan hambaNya, dan Allah tidak pernah memberi beban di luar kemampuan hambaNya” Mbak Nopi menambahi.
Aku tertegun. Tubuh ini bergetar.
“Dinda Sholihah, mbak selalu mengagumi sayap-sayap kalian yang tak pernah berhenti mengepak dan senantiasa terbang tinggi dan kian tinggi. Kecepatan dan gelombang ruhiyah kalian pun sangat luar biasa. Kalian, aktivis dakwah yang tak pernah kenal henti berjuang, dinamis, dan haroki, mewakili moto tentang jangan pernah diam dan berhenti bergerak, karena diam dapat mematikan”
Yaa Robb, setitik cinta yang hamba harapkan, semoga bisa menguatkan langkah ini. Selangkah kaki di jalan mulia ini semoga bisa meneguhkan azzam ini. Hamba tak perduli setinggi apa kedudukan hamba di hadapanMu, hamba akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dengan ikhtiar yang tertatih ini. Terimalah cinta yang tak seberapa ini, yaa Robb. Pintaku dalam hati.
Berikan kami kekuatan, ya Rabb. Jadikan kami mujahidah-mujahidah tangguh yang akn selalu tegar berada di jalan-Mu. Ikatkan hati kami untuk menggapai cinta-Mu. Lanjutku Sambil menatap langit. Dan aku berharap senyuman dari langit. Hatiku sangat bahagia.
“Nisa, tersenyumlah selalu, karena senyummu bias meluruhkan keletihan hatiku dan saudara-saudara yang lain. Tegarlah seperti karang. Anti tidak akan pernah sendiri”. Aku terkejut ketika Fia berada disampingku.
Nisa tersenyum. Dia memang sangat bahagia hari ini. Langit biru, tersenyum di horizon. Senyum itu terpantul di permukaan danau. Air mata kadang justru memperindah senyuman, sebab di baliknya ada cerita penuh makna. Tiba-tiba angin sejuk menerpa wajahku. Sejuk sekali. Wangi.
readmore »»  

Minggu, 31 Juli 2011

Ramadhan is coming....

.:Alhamdulillah..
segala nikmatNYA tak akan pernah terputus..:.
hanya saja, apakah kita bisa merasakan nikmat-nikmatNya dan mensyukurinya.
MasyaALLAH , ALLAH mempertemukanku kembali dengan Ramadhan saat ini

Sejatinya, Ramadhan dari tahun ke tahun sama saja, yang membuatnya berbeda adalah apakah diri kita bisa berubah menjadi lebih baik dari tahun ke tahun berikutnya.
Semoga sapaan Ramadhan kali ini lebih lembut dan membekas lebih indah.

Bismillah.. persiapkan Ramadhan lebih dan lebih!!!
Barokalloh ^^
readmore »»  

DiNamiKa... ( pahami keberadaan kita dan mereka )

DiNamiKa... ( pahami keberadaan kita dan mereka )

Dinamika adalah kawan akrab perjuangan, maju dan mundur, naik dan turun, juga diam dan berteriak, sebuah peran yang tinggal menunggu saat tepat penggunaan. Berteriaklah ketika harus berteriak dan diam ketika harus diam. Tak semua dari kita bisa mengikuti jalannya sebuah dinamika. Laju perubahan yang cepat maupun sebuah kemunduran menjadi sebuah dinamika yang pasti terjadi dan itu sunnatullah.

Dinamika pula yang menyebabkan seseorang tampak aktif maupun tidak aktif dalam beraktifitas. Penurunannya bisa jadi tidak seekstrim sampai 180 derajat, namun dari sangat aktif sekali, menjadi sangat aktif, aktif, cukup aktif, lumayan aktif, agak aktif, sedikit aktif, kadang-kadang aktif, sampai tidak aktif blas, dan lain sebagainya.

Nabi Muhammad SAW pun tak luput mengalami dinamika itu. Justru dengan dinamika itu, sangat layaklah beliau menjadi panutan kita. Semua bisa dijangkau dengan nalar dan logika. Peristiwa Uhud adalah kekalahan yang busa juga berarti kemenangan di sisi lain yaitu kemenangan maknawiyah, ruhiyah dan mental kaum muslimin.

”Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh – musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata, ’Darimana datangnya (kekalahan) ini’. Katakanlah, ’Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu’. Al Qur`an Surat Ali Imran ayat 165.

Peritiwa Uhud membuat kaum muslimin melakukan konsolidasi keimanan dan konsolidasi stuktural. Pasca kocar-kacirnya kondisi pasukan Uhud, Rasulullah segera berinisiatif untuk mengumpulkan kembali keadaan pasukan, Rasulullah bukan meminta para sahabat untuk segera menyelamatkan diri masing-masing tetapi justru menyeru mereka untuk kembali menyatukan kekuatan dan melakukan konsolidasi secara struktural, maka kemudian dimintalah salah seorang sahabat menyeru untuk segera berkumpul, menyusun kembali pribadi-pribadi sahabat menjadi satu kesatuan barisan yang kokoh. Rasulullah sebagai panglima perang dan beberapa sahabat utama menjadi komandan pasukan.Konsolidasi struktural, menjadi kunci kemenangan berikutnya !

Dalam sebuah buku ”mengorganisir rakyat”, seorang pelaku pengorganisir rakyat, Jo Hann Tan, diawal tulisannya menuliskan

Pada Awalnya,…..

maka, jika anda memutuskan untuk menjadi pengorganisir rakyat, bersiaplah menghadapi banyak tantangan, karena menjadi pengorganisir rakyat berarti terlibat dalam suatu proses perjuangan seumur hidup ”.

“ dan jika ternyata semua serangan itu terlalu kuat dan tak mampu lagi anda atasi, maka bersiaplah sejak awal untuk menerima kenyataan bahwa anda gagal sebagai pengorganisir rakyat”.

Dinamika adalah hal yang harus dihadapi dengan kepercayaan diri. Roda selalu berputar. Ada kalanya di atas pun begitu suatu saat pasti di bawah. Pengalaman mampu berbicara banya untuk menguatkan kepercayaan diri menghadapi berbagai dinamika hidup. Kata Anis Matta, pengalaman memberi seseorang keyakinan-keyakinan baru yang memperteguh keyakinan-keyakinan sebelumnya. Ketika kebenaran ide, konsep atau pemikiran terbukti dalam pengalaman kehidupan riil, pengalaman itulah yang memberi keyakinan-keyakinan baru, yang melampaui batas-batas rasional dan memasuki wilayah hati.
readmore »»  

Dakwah itu Visioner

Dakwah Itu Visioner
(copas from my friend)
“Dakwah itu adalah sebuah kebaikan…namun terkadang kalah oleh karena kita tak berfikir visioner”

Visioner adalah padanan kata yang tepat itu menempatkan gerakan dakwah di berbagai ranah kehidupan. Mengapa? Karena tanpa pemikiran yang visioner, gerakan dakwah itu hanya akan bertahan sebentar sekali dalam area yang dimasukinya. Apakah itu yang kita inginkan? tentu sama sekali tidak.

Pagi tadi ketika sedang berkunjung ke sebuah sekolah umum dan berbincang-bincang dengan guru-guru, di tengah perbincangan kami salah satu guru tersebut mengatakan:

“Aneh tetangga saya yang baru lulus kemarin, sekarang sedang kuliah kemarin menikah.” Guru lain menanggapi: Pacaran tidak?

Ibu itu menjawab: “Tidak!! Langsung nikah.” Kemudian ibu tadi bicara: “Hm…Jelas itu mah masuk “aliran” yang gak mau pacaran, oh yang perempuannya pake jilbab yang lebar ya? Hmm..ya kayaknya aliran itu tuh.” Jawab guru yang pertama menimpali.

Wahai saudara/i…ku pejuang dakwah dan mencintai Allah swt. dan Rasul saw. dengan ikhlas..itulah gambaran jelas yang terjadi di masyarkat…

Dalam hiruk pikuk film-film Islam, novel-novel Islami dan juga buku-buku Islami ternyata belum mampu mensibghoh masyarakat dengan utuh.. baru sebatas ada “alternatif”.

Inilah sebenarnya tugas da’i dan da’iyah di belahan bumi manapun, karena masyarakat itu butuh sentuhan langsung. Maka akan salah sekali jika para da’i dan da’iyah itu menjadikan indikator keberhasilan itu ketika yang terlihat adalah kuantitas yang begitu banyak tanpa kemudian melupakan tugas selanjutnya bagaimana agar menjadi berkualitas.

Yang sering terjadi di tataran grass root adalah para punggawa dakwah itu menjadi semakin elitis, sehingga objek dakwah kita hanyalah menjadi sekedar kue biasa yang dimakan kemudian tidak berbekas dalam ingatan mereka.

Padahal seharusnya analogi kue itu jika ada pengemasan yang baik seperti distribusi yang rapi dan mendekat dan juga kemasan kue yang diberikan dalam bentuk baik, kemudian senyum-senyum yang manis dari sang pengantar kue maka akan lain ceritanya.

Sekali lagi, objek dakwah itu butuh sentuhan langsung bukan bersikap elitis.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Al-Hasyr:18

Ayat ini mengingatkan bahwa strategi kemenangan itu letaknya pada sebuah perencanaan yang visioner dengan balutan taqwa dalam setiap langkah pencapaian. Maka tak ada lagi logika retorika, semua yang harus ada adalah ketika retorika berbanding lurus dengan perbuatan.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” As-Shaff:2-3

Jangan menyerah saudara-saudariku… Lanjutkan perjuangan para Nabi, dengan perencaaan visioner.
readmore »»  

Kamis, 28 Juli 2011

Mencintai

MENCINTAI
-M.Anis Matta-
Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan. Kita harus belajar untuk bertanggung jawab atas setiap perkataan kita. Bukankah lebih baik bahagia melihat orang yang kita sayangi bahagia bersama orang lain dan akan lebih menyakitkan lagi ketika orang yang kita sayangi tidak bahagia bersama kita.
Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
Maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
Pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
Selamanya memberi yang bisa kita berikan,
Selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

-M.Anis Matta-
Ketika memang orang yang kita sayangi, harus menikah dengan orang lain... yakinlah saat ini Allah sedang mempersiapkan imam terbaiknya untuk menemani kehidupanmu selanjutnya. Ikhlaskan perasaan itu, hanyutkan ia dalam derasnya air yang mengalir dalam kerinduan. Tak mudah memang,, butuh waktu untuk menetralisir itu. Teori tak semudah prakteknya. Tapi kembalikanlah semua itu pada Pemilik Cinta. Karena Pemilik Cinta yang memberi maka kembalikan lagi dan pintalah kepada Pemilik Cinta untuk mengambilnya kembali. Percayalah...setiap cobaan ada masanya, dan ada waktunya nanti untuk kita bahagia. Hanya berbeda waktu dan caranya^^
Berusaha membuat cinta itu sebagai kata kerja. Lakukanlah kerja jiwa dan raga untuk mencintainya. Kerjakan cinta yang ku maksudkan agar kau temukan cinta yang kau maksudkan, karena cinta adalah kata kerja. Biarlah perasaan hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal-amal shalih kita (JCPP).
Biarlah rasa sayang ini ku mahkotai dengan keimananku dan biarlah rasa ini berhenti pada titik ketaatan kepadaMu, Ya Rabbku....
Ya ketika cinta yang terlanjur disergap perasaan memiliki,,pembicaraan yang tak seharusnya muncul,, interaksi yang intens,, akibatnya ada suatu harap yang tertanam... ya inilah akibatnya. Belajarlah untuk menyayangi orang sewajarnya,, walo perasaan itu fitrah tapi kemaslah dengan indah agar jika si dia bukan imam kita,, hati ini pun tak begitu terpukul kehilangannya. Itu hanyalah titipan dari Allah,, hanya berbeda caranya saja,,kapan dan bagaimana kita harus berpisah dengan orang yang kita sayangi^^
Ketika mengalami hal itu,, cukuplah air mata ini mengalir sebagai rasa bahagia...karena orang yang kita sayangi akan menggenapkan separuh dari agamaNya bersama pilihan Allah yang lain walo dalam hati menginginkan pilihan itu adalah kita.
Allah memberikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan^^
“Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah” *doa Sang Nabi*
readmore »»  

Rabu, 27 Juli 2011

Nasehat Ramadhan utk orang-orang sholeh

Nasehat Ramadhan Orang-Orang Shalih
1. Berusahalah semaksimal mungkin untuk menjadikan Ramadhan penuh berkah ini sebagai stasiun untuk menginstrospeksi diri, dengan meningkatkan amal-amal kita, mengulang dan memperbaikinya, untuk bekal kehidupan kelak.
2. Berusahalah menjaga kestabilan dan konsistensi shalat Tarawih secara berjamaah. Karena Rasululloh SAW bersabda, “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia berhenti, maka akan dicatat untuknya seperti mendirikan shalat sepanjang malam.”
3. Berhati-hatilah untuk tidak berbuat berlebih-lebihan dalam harta dan lainnya. Karena berlebih-lebihan itu adalah perbuatan haram dan membuat kita sedikit bersedekah. Padahal sedekah itulah yang akan mendatangkan pahala untuk kita.
4. Bertekad untuk melanjutkan perbutan-perbuatan baik yang kita biasakan di dalam Ramadhan, setelah Ramadhan berakhir.
5. Mengambil pelajaran atas waktu yang telah berlalu, serta berusaha menutupi kekurangan yang ada dengan memanfaatkan sisa umur.
6. Sesungguhnya, bulan ini adalah bulan ibadah dan amal, bukan unuk memperbanyak tidur dan memelihara kemalasan.
7. Biasakan lidah kita untuk berdzikir. Janganlah kita termasuk orang-orang yang sedikit mengingat ALLAH SWT.
8. Ketik akita merasa lapar, maka ingatlah sesungguhnya kita adalah makhluk yang lemah, dan kita sangat membutuhkan makanan dan kebutuhan lainnya dari ALLAH SWT.
9. Gunakanlah waktu kita di bulan ini untuk meredam syahwat dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, bahkan membahayakan.
10. Ketahuilan bahwasanya beramal itu adalah amanah. Maka introspeksilah diri kita apakah kita sudah melakukannya dengan baik atau tidak.
11. Bersegeralah memohon maaf kepada orang yang pernah kita zhalimi, sebelum orang itu mengambil pahala amal kebaikan kita di akhirat kelak.
12. Berusahalah untuk selalu memberi makanan dan minuman berbuka kepada orang yang berpuasa agar kita mendapatkan pahala seperti puasa yang dikerjakannya.
13. Ketahuilan bahwasanya ALLAH SWT Maha Memuliakan dan Maha Penyayang menerima taubat orang-orang yang bertaubat. Dan Dia adalah Dzat yang memiliki kekuasaan membalas dahsyatnya tak terkira.
14. Jika kita melakukan maksiat, sementara ALLAh menutupi aib kita dari perbuatan maksiat itu, maka ketahuilah sesungguhnya ini adalah perintah agar kita segera bertaubat dan kuatkan tekad untuk tidak kembali mengulang kemasiatan serupa.
15. Ketahuilan pula bahwasanya ALLAH SWT membolehkan kita untuk beristirahat dan bersantai dengan hal-hal yang juga dibolehkan. Akan tetapi jangan terlena dengan istirahat itu sehingga menjadikan waktu kita untuk beristirahat dan berleha-leha., sehingga tak tersisa waktu untuk kita melakukan persiapan dengan menumpulkan banyak amal.
16. Bekali diri kita dengan pemahaman atas makna-makna (tafsir) Al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi SAW, sirah Nabi dan salafushalih,dan ilmu-ilmu agama karena sesungguhnya menuntut ilmu itu adalah termasuk ibadah.
17. Jauhkan diri kita dari pergaulan dengan orang-orang yang kurang baik akhlaqnya, dan sebaliknya, perbanyaklah berteman dengan orang-orang shalih yang bisa menularkan keshalihannya dan ketaatannya kepada kita.
18. Sesungguhnya sikap kita yang selalu bersegera datang ke masjid adalah pertanda kuatnya kerinduan dan cinta kita kepada sang Khaliq.
19. Jangan terlalu banyak menghidangkan jenis makanan ketika sedang berbuka puasa, karena hal itu selain mubadzir juga akan menyibukkan anggota keluarga untuk mempersiapkannya, sehingga mereka akan kehilangan banyak kesempatan di waktu siang untuk membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah yag lain.
20. Jangan terlalu sering jalan-jalan, keluar rumah di waktu malam seperti ke tempat-tempat umum , mal, pasar, tempat hiburan, dsb. Terutama di hari-hari penghujung Ramadhan agar kita tidak kehilangan kesempatan yang sangat berharga.
21. Berupayalah sekuat tenaga untuk melakukan Qiyamulail pada sepuluh malam terakhir, karena malam-malam itu adalah malam-malam yang memiliki keutamaan dimana Lailatul Qadr; malam yang lebih mulia dari malam seribu bulan, akan turun.
22. Lakukanlah i’tikaf di masjid, meskipun hanya beberapa jam.
23. Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam idul fitridan pada pagi harinya sampai selesai melaksanakan shalat.
24. Ketahuilah bahwa hari Idul Fitri adalah hari untuk bersyukur kepada ALLAH. Maka jangan jadikan ia sebagai hari kebebasan untuk melakukan semua hal yang selama ini terpendam dalam keinginan kita.
25. Ingatlah selalu kepada ALLAH, sedang kita selalu dalam keadaan suka cita dengan kedatangan hari raya.
26. Gunakanlah sebagian hari-hari kita di luar Ramadhan untuk berpuasa sunah. Janganlah kita hanya berpuasa di bulan Ramadhan saja.
27. Selalulah mengintrospeksi diri kita dalam segala hal. Seperti menjaga shalat jamaah, berbakti kepada kedua orang tua, mengeluarkan zakat, bersilaturrahim, selalu membaca ALQur’an dan mentadaburinya, dll.

Inilah beberapa nasehat singkat dari orang-orang shalih kepada kita. Semoga kita dapat menjadikannya sebagai renungan untuk merengkuh sebanyak mungkin pahala yang terkandung dalam bulan Ramadhan.

::diambil dari buku Nasehat Ramadhan Orang-Orang Shalih, karangan ust. Sulthan Hadi::
readmore »»  

Selasa, 26 Juli 2011

Ilmu dan Amal

ketika ILMU menjadi syarat sah amal..
maka,posisi ilmu dalam amal adalah sebagai pengendali niat, krn seseorang baru bisa berniat untuk beramal dengan niat yang benar.
"Amal itu tidak mungkin diterima kecuali yang didahului dengan tujuan untuk Allah. Inti dari tujuan ini adalah memahami tentang pahala yg Allah janjikan serta memahami tata cara ikhlas kpd Allah dalam beramal. Ketika amal itu tdk diiringi dgn niat, tdk mengharapkan pahala, dan kosong dari ikhlas krn Allah maka hakekatnya bukanlah amal tapi seperti perbuatan yang sia-sia"
readmore »»  

Jaga Hati untuk selamanya

Menjaga Hati untuk Selamanya

Kita tidak akan pernah tahu, tapi kita harus siap dengan setiap episode.

Belajar untuk siap akan terus mengalir bersamaan dengan kita menjalaninya.



Berkisah tentang menuju pernikahan adalah hal yang selalu menarik untuk dikisahkan terutama bagi yang akan menuju padanya.Menujunya adalah suatu ibadah, wajar jika kita akan memulainya banyak godaan .Bagi yang belum merasakannya, mungkin hanya bisa mengira-ngira atau meraba-raba bagaimana rasanya menuju dan menikmati episodenya.

Siapakah ia? Bagaimanakah ia? Itu adalah pertanyaan mendasar untuk siapa calon kita nanti. Ia akan lebih surprise jika ia adalah orang pertama yang kita kenal. Semua penuh kejutan, karena itu adalah bagian dari rahasia ALLAH kepada hambaNya.

Sudah siapkah? Tidak akan lagi seorang diri , tapi ia akan menjadi dua kepala yang menyatu bersama, berjalan berdampingan untuk bisa saling melengkapi. Yakinlah bahwa calon kita nanti adalah orang yang terbaik yang ALLAH berikan.

Berbicaralah dengan hati dan akal kita pun diikutsertakan dalam memilih / menentukan jodoh, singkarkanlah urusan dunia untuk sementara. Kecantikan, ketampanan, kekayaan. Beralih lah dulu menuju aklaq dan agamanya, karena itu akan menyelamatkanmu. Bukan hanya sekedar teori, insyaALLAH ini adalah hal yang utama. Bersyukur jika kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Setiap orang pastilah mempunyai prinsip dalam memilih jodohnya. Ada satu hal yang menurutku itu adalah hal yang luar biasa… ketika kita berusaha sekuat tenaga menjaga diri sebelum adanya ikatan yang sah, maka insyaALLAH kita pun juga akan mendapatkan calon pendamping yang ia juga selalu menjaga dirinya. Tetaplah berprasangka baik dengan calon pasangan kita. Berharap ALLAH memberikan yang terbaik sekali dalam seumur hidup dan seterusnya.

Aamiin,,,,
readmore »»  

Karakter Rumah Tangga Islam :)

Secara bahasa kata rumah (al-bait) dalam Qamus Al-Muhith bermakna: kemuliaan, istana, keluarga seseorang, kasur untuk tidur, bisa pula bermakna: menikahkan, atau orang yang mulia.

Dari makna tersebut, rumah memiliki konotasi: tempat kemuliaan, sebuah istana, adanya suasana kekeluargaan, kasur untuk tidur, dan aktivitas pernikahan. Sehingga rumah tidak hanya bermakna tempat tinggal, tetapi juga bisa bermakna penghuni dan suasana.

Rumah tangga Islami bukan hanya sekedar berdiri di atas kemusliman seluruh anggota keluarganya. Bukan pula karena seringnya terdengar lantunan ayat-ayat al-Qur'an dari rumah itu, Dan bukan pula sekedar anak-anaknya disekolahkan ke masjid sewaktu sore hari.

Rumah tangga Islam adalah rumah yang didalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Rumah tangga Islami adalah rumah tangga yang didirikan di atas landasan ibadah. Dari makna tersebut, rumah memiliki konotasi: tempat kemuliaan, sebuah istana, adanya suasana kekeluargaan, kasur untuk tidur, dan aktivitas pernikahan. Sehingga rumah tidak hanya bermakna tempat tinggal, tetapi juga bisa bermakna penghuni dan suasana.

Rumah tangga Islami bukan hanya sekedar berdiri di atas kemusliman seluruh anggota keluarganya. Bukan pula karena seringnya terdengar lantunan ayat-ayat al-Qur'an dari rumah itu, Dan bukan pula sekedar anak-anaknya disekolahkan ke masjid sewaktu sore hari.

Rumah tangga Islam adalah rumah yang didalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Rumah tangga Islami adalah rumah tangga yang didirikan di atas landasan ibadah. mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar, karena kecintaannya kepada Allah.

Rumah tangga Islami adalah rumah tangga teladan yang menjadi panutan dan dambaan umat. Mereka betah tinggal di dalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Mereka berkhidmad kepada Allah Swt. Dalam suka maupun duka, dalam keadaan senggang maupun sempit.

Rumah tangga Islami adalah rumah tangga yang didalamnya terdapat iklim yang sakinah (tenang), mawadah (penuh cinta) dan rahmah (sarat kasih saying). Perasaan itu senantiasa melingkupi suasana rumah setiap harinya. Seluruh anggota keluarga merasakan suasana "surga" di dalamnya. Sesuai slogan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Baiti Jannati.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri kalian dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian rasa kasih dan saying. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir". (Ar-Rum:21)

Prinsip-prinsip dasar Rumah Tangga Islami, antara lain:

1. Ia tegak di atas landasan Ibadah

Rumah tangga Isalam harus didirkan dalam rangka beribadah kepada Allah Swt semata. Artinya sejak proses pemilihan jodoh, bertemu, menjalin kesepakatan hingga pelaksanaan pernikahan tidak terlepas dari prinsip ibadah.

Ketundukan sejak langkah awal mendirikan rumah tangga setidaknya menjadi pemicu untuk tetap tunduk dalam langkah-langkah selanjutnya kelak, jika terjadi permasalahan dalam rumah tangga akan dengan mudah menyelesaikannya, karena semua telah tunduk kepada peraturan Allah dan Rasulnya.



"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku" (Adz Dzariyat:56)



2. Nilai-nilai Islam terinternalisasi secara kaffah

Internalisasi nilai-nilai Islam secara kaffah (menyeluruh) harus terjadi dalam diri setiap anggota keluarga sehingga mereka senantiasa komit terhadap adab-adab Islami.



"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu". (Al-Baqarah:120)



Untuk itu rumah tangga Islami dituntut untuk menyediakan sarana-sarana tarbiyah islamiyyah yang memadai, agar proses belajar, menyerap nilai dan ilmu sampai akhirnya aplikasi dalam kehidupan sehari-hari bisa diwujudkan. Internalisasi ini harus berjalan terus menerus, bertahap dan berkesinambungan. Tanpa hal ini, adab-adab Islami tak akan bisa ditegakkan.



3. Hadirnya Qudwah yang nyata

Untuk menegakkan Islam secara kaffah perlu qudwah (Keteladanan) yang nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendak diterapkan. Orang tua mempunyai posisi yang sangat penting dalam hal ini. Sebelum memerintah kebaikan atau melarang kemungkaran kepada anggota keluarganya, pertama kali orang tuanya harus memberikan keteladanan.

"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan" (Ash-Shaf:3-4)

Keteladanan sangat diperlukan, dalam proses interaksi anak-anak dengan orang tuanya sangatlah dekat. Anak akan langsung mengetahui kondisi ideal yang diharapkan. Di sisi lain, pada saat anak-anak masih belum dewasa, proses pencerapan nilai-nilai lebih tertekankan pada apa yang mereka lihat dan dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tak banyak manfaat orang tua menyuruh anak-anaknya rajin melaksanakan shalat tepat waktu, sementara ia sendiri selalu asyik melihat acara televisi saat adzan mahrib tiba.

4. Masing-masing anggota keluarga diposisikan sesuai syariat

Islam telah memberikan hak dan kewajiban bagi masing-masing anggota keluarga secara tepat dan manusiawi. APabila hal itu ditepati, akan mengantarkan mereka pada kebaikan dunia dan akhirat.

"Dan janganlah kamu iri hati apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu, lebih banyak dari yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu". (An Nisa':32)

Masih banyak keluarga muslim yang belum bisa berbuat sesuai dengan tuntunan Islam. Betapa banyak kita dengar keluhan keguncangan keluarga Muslim bermula tidak terpenuhinya hak dan kewaiban masing-masing. Suami hanya menuntut haknya dari istri dan anak-anaknya tanpa mau memenuhi kewajibanya. Demikian pula dengan istrinya. Yang terjadi kemudian adalah ketidak harmonisan Susana rumah tangga tersebut.

Penyimpangan seksual yang dilakukan oleh orang tua dan remaja, sumbernya berawal dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Fungsi-fungsi tidak berjalan secara normal, karena adanya katup-katup curahan perasaan yang tersumbat, dan akhirnya meledak dalam bentuk penyimpangan-penyimpangan.



Dalam Islam masing-masing anggota dalam rumah tangga mendapatkan posisinya. Suami adalah pemimpin umum yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup rumah tangga. Karenanya tugas mencari penghidupan dibebankan dipundaknya. Istri adalah pemimpin rumah tangga untuk tugas-tugas internal, yang bertugasmengatur urusan kerumahtanggaan, baik ditangani sendiri maupun dengan bantuan orang lain.

Sabda Rasulullah Saw.: "Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Lelaki adalah pemimpin di rumah tangganya dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya". (HR Bukhari)

5. Terbiasakanya ta'awun dalam menegakkan adab-adab Islam

Berkhidmat dalam kebaikan tidaklah mudah, amat banyak gangguan dan godaannya. Jika semua anggota keluarga telah bisa menempatkan diri secara tepat, maka ta'awun (tolong menolong) dalam kebaikan akan lebih mungkin terjadi.

"Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan" (Al-Maidah: 2)

Betapa sulit kita membentuk suasana islami apabila kerjasama antar anggota keluarga tidak terwujud. Masing-masing sibuk dengan berbagai urusannya. Mungkin juga masing-masing aktif di pengajian, namun tidak ada suasana saling tolong menolong dan menasihati dalam kebaikan dan taqwa.

Rumah hanya menjadi tempat tidur dan tempat istirahat di malam hari. Jika pun ada komunikasi antar mereka di rumah maka komunikasi itu tidak lagi dibarengi dengan suasana hangat. Tentu keluarga ini akan sulit untuk menciptakan suasana islami. Apalagi mengemban beban dakwah lebih luas.



6. Rumah terkondisikan bagi terlaksnanya peraturan Islam

Adab-adab islami dalam rumah tangga akan sulit dilaksanakan jika struktur bangunan rumah secara fisik tidak mendukung. Di sini pembahasan rumah tangga islami banyak dilupakan.

Dalam budaya masyarakat tertentu lantaran permasalahan ekonomi—rumah hanyalah bangunan segi empat memanjang tanpa sekat ruang di dalamnya. Tidak ada ruang khusus bagi anak-anak perempuan yang terpisah dengan anak-anak laki-laki. Begitu juga ruang khusus suami istri.

Pada masyarakat modern, problem perumahan sangat mendesak bagi tiap keluarga. Ruang-ruang terbatas dan sangat sempit serta jarak antar rumah hanya sebatas satu tembok sudah dianggap biasa. Berbagai penyakit social akan menjadi ancamen serius di lokasi seperti ini.



7. Tercukupinya kebutuhan materi secara wajar

Memang materi bukanah segalanya. Ia bukan merupakan tujuan dalam kehidupan rumah tangga. Akan tetapi tanpa materi akan banyak hal yang tidak bisa didapatkan.



"Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi" (Al Qashash: 77)

Tindak lanjut dari point sebelumnya, amat jelas menggambarkan betapa keluarga Muslim dituntut memiliki materi yang cukup. Rumah yang luas dan kondusif pun juga dibutuhkan bagi upaya terbentuknya suasana islami. Walau bukan berarti rumah mewah dan lengkap dengan sarana kemewahannya. Akan tetapi melihat harga-harga sekarang , maka harus terpenuhi kebutuhan materi yang cukup untuk itu.

Bukan hanya itu, sarana berlangsungnya tarbiyah islamiyyah pun membutuhkan sejumlah materi. Membuat perpustakaan kecil, menghadirkan sarana permainan islami yang mencerdaskan anak, juga membutuhkan biaya. Belum lagi untuk pendidikan yang bermutu.



8. Rumah tangga dihindarkan dari hal-hal yang tidak sesuai dengan semangat Islam

Menyingkirkan dan menjauhkan berbagai hal di dalam rumah tangga yang tak sesuai dengan semangat keislaman harus dilakukan. Pada kasus-kasus tertentu yang dapat ditolerir, benda-benda, hiasan, dan peralatan yang harus dibuang atau dibatasi pemanfaatannya secara syariat, namun masih disimpan secara sengaja. Apalagi untuk menghormati benda-benda keramat dan lainnya.

Ada pula rumah tangga muslim yang memiliki berbagai peralatan elektronik, seperti: radio, tape recorder, televisi lengkap dengan antenna parabola, video game, laserdisc, bahkan computer dengan jaringan internet, camera digital, dan video shoot. Peralatan tersebut jelas memiliki manfaat bagi pemiliknya, namun disisi yang lain ada bahaya yang senantiasa mengancam yang siap menerkam. Keluarga harus memiliki batasan yang jelas dan tegas dalam pemanfaatannya.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (At-Tahrim: 6)



9. Anggota keluarga terlibat aktif dalam pembinaan masyarakat

Diperlukan sebuah upaya pembinaan masyarakat (ishlahul mujtama') di sekitarnya menuju pemahaman yang benar tentang Islam yang shahih, untuk kemudian berusaha bersama-sama membina diri dan keluarga sesuai dengan arahan Islam. Disini rumah tangga Islami memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi kebaikan masyarakat di sekitarnya.

"Serulah manusia kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula" (An-Nahl: 125)

Dalam era global ini, kita tidak mungkin bisa hidupsendirian terpisah dengan masyarakat, betapapun taatnya keluarga kita terhadap norma-norma ilahiyah, apabila lingkungan sekitar tidak mendukung, pelarutan-pelarutan nilai akan mudah terjadi, lebih-lebih pada anak-anak.



10. Rumah tangga dijaga dari pengaruh lingkungan yang buruk.

Dalam kondisi keluarga islami yang tak mampu memberikan nilai kebaikan kepada masyarakat sekitar yang terlampau parah kerusakannya, maka harus dilakukan upaya-upaya serius untuk membentengi—paling tidak—anggota keluarga. Harus ada mekanisme penyelamatan internal, agar tak larut dan hanyut dalam suasana jahili masyarakat sekitar.

Pada suatu kasus yang amat parah, keluarga muslim bahkan harus meninggalkan lokasi jahiliyah itu untuk mencari tempat yang lain yang lebih baik. Hal ini dilakukan demi kebaikan mereka.

"Maka tetaplah kamu dalam jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga kepada orangyang telah bertaubat beserta kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yanh menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak memiliki seorang penolongpun selain Allah, lalu kamu tidak akan diberi pertolongan". (Hud: 112-113)

Dikhawatirkan ketidak mampuan keluarga Islami untuk memberikan celupan nilai keislaman pada masyarakatnya akan berimbas buruk pada diri mereka sendiri. Artinya tatkala mekanisme defensive belum terjadi secara otomatis, maka ada peluang bagi munculnya rembesan-rembesan suasana jahiliyah dalam rumah tangga islami. Keluarga tersebut kian terdesak dan akhirnya larut dalam keburukan.
Demikian beberapa karakter dasar rumah tangga islami. Apabila sepuluh hal tersebut ada dalam suatu rumah tangga, tentu dari sana akan senantiasa memancar cahaya Islam ke lingkungan sekitarnya.

maraji' : keakhwatan, ust cahyadi takariawan
readmore »»  

Kamis, 30 Desember 2010

Sentuhan Tarbiyah seorang IBU

Sentuhan Tarbiyah seorang IBU
Seorang ibu ia harus cerdas.
Cerdas intelektual, emosional, dan spiritual, karena Madrasah pertama bagi seorang anak adalah IBU.

Sentuhan yang begitu lembut, harum, menyejukkan dari seorang IBU, akan mewarnai akhlaq seorang anak.
Peradaban sebuah negara akan dibentuk melalui tangan-tangan indah seorang wanita yang disebut dengan IBU.
Disinilah cerita besar akan dimulai...
Hanyalah kisah sederhana namun sangat dahsyat pengaruhnya.
Tarbiyah yang indah nan cantik telah digoreskan oleh seorang ibu kepadaku dengan berbalut kasih sayangnya.
Sosok yang indah untuk bisa dilukiskan karena Syurga Allah ada di bawah telapak kakinya.

Subhanallahu....

Senyum yang indah memberikan sejuta harapan ketika aku berada pada asa yang rendah.
Kata cintanya tak pernah lepas di setiap doanya pada buah hatinya. Memberi lebih banyak daripada meminta.
Indah dan terlalu indah
Jazakillah khair atas tarbiyahnya yang penuh cinta...
semoga kita selalu bertarbiyah dan tertarbiyah.

Barokaallahu.
Semoga ALLAH memberikan tempat terindah di SyurgaNya kelak untuk ibuku yang sholihah.
Happy mother's day buat ibuku yang sholihah ^_^
:)
readmore »»  

Sabtu, 17 April 2010

Memanggil yang tak tergapai

Memanggil yang tak tergapai

Kita yang menjalani hidup dengan mengalir
Seperti air
Mungkin lupa bahwa air hanya mengalir
Ke tempat yang lebih rendah

“Jika memang Muhammad seorang Nabi”, kata pemuka yahudi kepada Zaid ibn Haritsah, “Kau takkan pernah bias pulang!” kata-kata itu mereka deraskan pada Zaid menjelang keberangkatannya memimpin pasukan ke Mu’tah. Saat itu Rasulullah SAW bersabda kepada sang panglima bersama pasukannya, “Jika Zaid syahid, maka Ja’far ibn Abi Thalib yang akan memimpin pasukan. Jika Ja’far gugur, maka ‘Abdullah ibn Rawahah yang akan memegang bendera.”
“Sesungguhnya dulu”, kata orang-orang Yahudi itu, “Apabila Nabi-nabi Bani Israil menyebut nama seratus orang sebagai panglima, maka dipastikan mereka semua akan gugur. Jadi, jika memang Muhammad seorang Nabi, engkau wahai Zaid pasti mati dalam perang ini!” Apa jawab Zaid, “Tak setitik pun keraguan padaku bahwa dia seorang Nabi. Dan kata-katanya benar lagi dibenarkan dari langit tinggi!”
Maka 3000 pasukan itu pun berangkat diiringi syair-syair semangat dari sang panglima ketiga, ‘Abdullah ibn Rawahah. Adapun ia, menangis pada awalnya. Apakah karena takutkan kematian seperti bisik-berisik para Yahudi? “Bukan!”, tegasnya. Ia lalu membaca ayat ke-71 dari Surat Maryam.
“ Dan tidak seorang pun dari kalian melainkan akan mendatangi neraka itu. Itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang telah ditetapkan.” (Q.s. Maryam : 71)
“Aku tidak tau bagaimana caranya keluar dari neraka itu setelah mendatanginya”, kata ‘Abdullah. Sahabat-sahabatnya pun menyahut, “Semoga Allah senantiasa menemanimu dan mengembalikanmu kepada kami dalam sehat dan sentausa!” menjawab doa itu, ia pun bersenandung.

Tetapi aku, kumohon ampunan pada Ar Rahman
Dan pukulan keras menghantam buih lautan
Atau hentakan mematikan di tangan yang dahaga
Menghunjamkan tombak menembus kulit ke dalam dada
Hingga orang katakan ketika lalui pusaraku
Inilah pahlawan yang mentaati Ilahi

‘Abdullah ibn Rawahah menegaskan cita tinggi di dalam syairnya ini. Dan ketika rombongan sampai di Ma’an, mereka mendengar bahwa Heraclius, kaisar Romawi, memimpin sendiri 100.000 bala tentaranya yang lalu digabungkan dengan pasukan Lakham, Judzam, Qain, Bahra dan Baliy yang dipimpin oleh Malik ibn Zafilah hingga seluruhnya berangka 200.000 prajurit bersenjata lengkap. Bagaimanakah ini, sedangkan kekuatan pasukan dari Madinah hanya 3000 personel? Satu berbanding tujuh puluh?
“Kita tulis surat kepada Rasulullah SAW”, kata seseorang. “Kita beritahu beliau jumlah musuh kita. Bisa jadi beliau akan mengirimkan pasukan tambahan. Atau beliau akan memberika suatu perintah. Lalu kita taati perintah itu.”
Ada yang mengangguk. Tapi sebagian besar menolehkan kepala kepada para panglima. Zaid ibn Haritsah dan Ja’far ibn Abi Thalib terdiam. Zaid seperti biasa memang tak banyak kata. Sedang Ja’far yang baru saja datang ke Madinah dari hijrahnya di Habasyah merasa belum berhak banyak bicara. Mereka lalu melirik ‘Abdullah ibn Rawahah, sang penyair Anshar. Dalam hati Zaid dan Ja’far mungkin melintas pendapat, karena sebagian besar pasukan terdiri atas kaum Anshar biarlah ‘Abdullah yang bicara. Lisannya yang fasih, kata-katanya yang jernih, dan nada bicaranya yang menggelora akan meyakinkan setiap orang.
“Saudara-saudaraku”, kata ‘Abdullah kemudian, “Sesungguhnya apa yang tidak kalian sukai ini justru merupakan tujuan dan cita-cita keberangkatan kita. Tidakkah kalian merindukan mati syahid? Kita memerangi musuh bukan mengandalkan senjata, kekuatan, ataupun banyaknya jumlah bilangan. Kita memerangi mereka hanyasanya mengandalkan agama ini, yang Allah telah muliakan kita karenanya. Maka dari itu, majulah dengan barakah Allah! Kita pasti memperoleh satu di antara dua kebaikan; MENANG atau SYAHID!!”
Lalu semua orang menyorakkan takbir…
readmore »»  

Sabtu, 27 Maret 2010

Jiwa Perindu Syurga

Kepada jiwa-jiwa perindu Syurga
"Perjuangan ini tidaklah akan semakin mudah, namun seberat apa pun beban kita kedepan dengan segenap kepahaman hingga ke-tsiqohan kita.
Kita akan senantiasa tegar berdiri. Menapaki perjalanan panjang ini.
Mohonlah agar senantiasa diistiqomahkan di jalan-NYA.
Cinta akan menjadikan kita sibuk untuk senantiasa memberi dan bukan menuntut .
Langkah kita tidak akan kenal henti, sejak hari ihi hingga keSyahidan jadi milik kita."
Fasbiru..
BismiLLAAH assholatu wa sallam ‘ala rasuliLLAAH
Semoga Allah senantiasa melimpahkan barakahnya atas kita. Kita telah bertemu dan bersama di dunia ini, di atas jalan-NYA. Allah lah yang telah menuntun kita sampai di sini. Kita telah bersatu dan berjalan di atas niat mencari keridhaan-NYA. Allah lah yang patut dipuji atas semua karunia kebersamaan ini. Meski kita merasakan lika-liku keberasmaan ini juga tidak pernah sepi dari noda dan kekeliruan, namun kiata masing-masing perlu mengatakan “ innaLLAAHa ma'ana ”.
Al Ahzab 9-11:
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berbagai purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.”
Ayat di atas menceritakan keadaan sebuah peperangan Ahzab yang hendak dihadapi oleh kaum muslimin dengan kaum kafir. Allah menceritakan kepada kita, bahwa pada saat itu kaum kafir datang dari segala penjuru, dari atas dan dari bawah sedemikian banyaknya sehingga timbul rasa takut dalam diri sebagian kaum muslimin. Bahkan sedemikian hebatnya rasa takut itu sehingga Allah menggambarkan bahwa pada saat itu kaum muslimin hatinya seakan-akan naik menyesak sampai ke tenggorokan, dalam kelanjutan ayat itu disebutkan bahwa Allah hendak menguji keimanan kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin berprasangka yang baik kepada Allah dan tetap teguh keimanan mereka. Namun sebagian lainnya goyah dan berprasangka buruk terhadap Allah.
Sahabatku…..
Marilah kita tengok kedalam diri kita. Pernahkah kita mengalami kondisi yang sama? Pernahkah kita mengalami keadaan dalam hari-hari kita dimana kita dihadapkan kepada suatu permasalahan yang begitu besarnya (menurut kita) sehingga kita takut, gelisah dan berprasangka yang buruk kepada Allah? Pernahkah kita mengalami suatu permasalahan yang mana kita merasa bahwa kita ditinggalkan oleh-Nya?
Jika pernah, yakinlah sahabatku, bahwa kita sedang diuji oleh Allah. Allah menguji sejauh mana keimanan kita. Sejauh mana keyakinan kita kepada Allah yang Maha Pelindung. Sejauh mana kepasrahan kita sebagai hamba kepada Allah Sang Pencipta.
Sahabatku……
Yakinlah bahwa satu kesusahan diapit oleh dua kemudahan. Yakinlah bahwa sesudah kesusahan insyaAllah pasti ada kemudahan. Berprasangka baiklah kepada Allah, karena Dialah yang Maha Mengetahui seluk beluk diri hamba-hamba-Nya. Dan yakinlah bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang tidak akan pernah mendzhalimi hamba-hamba-Nya. Setiap ujian dan cobaan yang menghadapi diri kita dan kita ikhlas serta sabar menjalaninya maka Allah berjanji akan membalasnya dengan sesuatu yang teramat baik yang belum pernah kita menjumpainya atau bahkan belum pernah terbesit sedikitpun kebaikan itu dalam pikiran kita. Oleh karena itu sahabat, selamat menerima dan menjalani jamuan Allah yaitu cobaan dan ujian hidup……"
tausiyah di atas merupakan kiriman email dari seorang teman
readmore »»  

Jumat, 15 Januari 2010

Ya Allah.....

Bagaimana kabar keimananmu?
Bagaimana kabar keimananmu hari ini?
Pertanyaan yang singkat namun jawabannya yg tahu hanyalah pada diri kita sendiri. Jika saya bilang, keimanan kita sama dgn keadaan ruhiyah kita. Suatu hubungan privacy kita pada Allah. Selalu terisi ataukah kering? Ehm,... sedih banget ketika diri ini mengalami kekeringan dalam diri. Na'udzubillah, tsumma na'udzubillah... Yg ada hanyalah kemalasan dalam melakukan segala hal dan yg paling membahayakan adalah merasa suatu keputus asaan ( semoga ini tidak boleh terjadi lagi!!!)
Dirasakan atau tidak, keadaan ruhiyah kita sangat mempengaruhi segala aktivitas sehari-hari. Kekuatan ruhiyah itu sangat besar. MasyaAllahu!! Seorang ukhti pernah berkata padaku, " dek, kelelahan jasmani tidak akan pernah terasa jika keadaan ruhiyah kita selalu terisi. Imbangilah aktivitas dunia kita dgn pengisian ruhiyah pada diri kita."
Ingatkah kita, pertanyaan pertama yg Rosul ajukan kepada para sahabat-sahabatnya ketika akan memulai perang?? "Apakah semalam kalian melaksanakan tahajud?" Terlihat sekali bahwa Rosul lebih mementingkan masalah ruhiyah dalam beraktifitas.

Gimana semalam QL- nya, ukh?
Dah sampai mana nih tilawahnya?
Sebulan berapa kali shaum sunnahnya?
Al ma'tsuratnya gak ketinggalan kan?
Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain.... yang sudah harus terekam pada diri sendiri, tanpa harus ada yang mengingatkannya lagi.

Dan renungkanlah ini...........
Hari ini entah kenapa ibadah dan amal salih sepertinya enggan bersahabat denganku. Saat kutanyakan, kenapa? Keduanya menjawab: " Karena kami tidak menemukan guratan rindu akherat di wajahmu"
Jazakillah khair untuk seorang ukhti yang selalu mengingatkan diriku, dan yang selalu memberi motivasi padaku...
readmore »»  

Pribadi Muslim

Bismillahirrahmaanirrahiim..
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih).
Salimul aqidah merupakan sesuatu yg harus ada pada setiap muslim. Dgn aqidah yg bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yg kuat kepada Allah SWT. Dgn ikatan yg kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dgn kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yg artinya: .
"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam" (QS. 6:162). .
Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da'wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar).
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yg penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: . "Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat". Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kpd sunnah Rasul SAW yg berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh).
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yg harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dgn makhluk-makhluk-Nya. Dgn akhlak yg mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yg mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yg agung shg diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur'an. .Allah berfirman yg artinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung" (QS. 68:4).
4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani).
• Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yg harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh shg dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dgn fisiknya yg kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yg harus dilaksanakan dgn fisik yg sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. .
• Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sbg sesuatu yg wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yg penting, maka Rasulullah SAW bersabda yg artinya: "Mukmin yg kuat lebih aku cintai daripada mukmin yg lemah (HR. Muslim)
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir).
• Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yg juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adl fatonah (cerdas). Al Qur'an juga banyak mengungkap ayat-ayat yg merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yg artinya: "Mereka bertanya kepadamu ttg khamar dan judi. Katakanlah: " pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yg mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yg lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir" (QS 2:219) .
• Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yg harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dgn aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yg luas. .Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. .
• Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yg artinya: Katakanlah: "samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?"', sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". (QS 39:9)
6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu).
• Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yg harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yg baik dan yg buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yg baik dan menghindari yg buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dlm melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yg ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yg artinya: "Tidak beriman seseorang dari kamu shg ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yg aku bawa (ajaran Islam)" (HR. Hakim)
7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu).
• Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yg begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur'an dgn menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya. .
• Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yg sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yg 24 jam itu, ada manusia yg beruntung dan tak sedikit manusia yg rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yg menyatakan: "Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu". Waktu merupakan sesuatu yg cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. .
• Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan).
• Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. .
• Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yg mesti mendapat perhatian serius dlm penunaian tugas-tugas.
9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha mandiri).
• Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yg harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yg amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yg telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yg baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yg sangat tinggi. .
• Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi'un Lighoirihi (bermanfaat bagi org lain).
• Nafi'un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik shg dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yg baik dlm masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yg artinya: "Sebaik-baik manusia adl yg paling bermanfaat bagi orang lain" (HR. Qudhy dari Jabir). .
• Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur'an dan sunnah. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing
readmore »»  

Rabu, 02 Desember 2009

Rabu, 25 November 2009

“Ya ALLAH, sehatkanlah tubuhku; Ya ALLAH, sehatkanlah pendengaranku; Ya ALLAH sehatkanlah penglihatanku.
Ya ALLAH aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran dan aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, tiada TUHAN yang berhak disembah kecuali Engkau”

Jangan pernah terlambat untuk bersyukur atas nikmat sehat pada diri kita
Jangan pernah terlambat menyadari nikmat sehat ketika kita baru diuji dengan rasa sakit

Semoga hamba slalu bersyukur di setiap desah nafas ini...
readmore »»  

Selasa, 24 November 2009

Berikan walau hanya sedikit

Suatu cerita, ada seorang ibu yang hidup sangat sederhana dengan enam orang anaknya. Ia hidup dengan penghasilan yang pas-pasan. Suatu hari, mejelang makan malam, ibu itu tidak memiliki bekal makanan yang cukup buat dimasak saat itu. Jika menengok ke dapurnya hanya tinggal tersedia beras satu cangkir dan garam. Namun, ibu itu tidak kehilangan akal, bagaimana agar semua anggota keluarga bisa makan pada malam hari. Diambillah panci yang sudah sangat tua umurnya, ia masukkan beras dan dicampur air dgn takaran yg lumayan banyak setelah itu dibubuhi garam secukupnya..... ya akhir dari masakan itu adalah bubur yg sangat bubur...
”Nak, maaf yah, malam ini ibu hanya bisa menyediakan bubur ini. Insyaalloh dari bubur ini lah yang akan mengantarkan kalian menjadi anak sholeh/sholehah, karena ibu sangat berharap pada ALLOH adanya keberkahan di dalam makanan ini”, tutur sang ibu dengan lembut.
”Ibu, bubur ini sangat lezat!”, komentar seorang anaknya.
”Alhamdulillah nak...”, sahut sang ibu.
Mungkin bisa dibayangkan oleh kita semua, berapa banyak jatah yang didapat oleh setiap anggota keluarga dan bagaiman pula rasanya....
Banyak ibroh yang bisa kita ambil dari kisah di atas... bagaimanakah bisa anak tersebut mengatakan bahwa bubur itu sangat lezat???
Yah, bisa jadi anak ini sudah sangat lapar dan sangat menantikan makanan atau juga ia merasakan kesungguhan dari masakan yang telah dibuat ibunya.. suatu feel yang sangat hebat....
Satu lagi ibroh yang bisa diambil adalah.. suatu keberanian dari sang ibu ini untuk bisa menyediakan makan malam dengan persediaan yang sangat terbatas. Suatu prinsip dari seorang ibu adalah, ”Aku harus bisa memberikan semampuku apa yang aku miliki untuk anak-anakku, dan kesemuanya itu harus aku kelola dengan hatiku agar terasa istimewa” Yaitu.. buat kita semua, jangan takut untuk memberikan walau apa yang kita miliki baru sedikit, baik itu ilmu. Berikanlah ilmu yang engkau punya kepada sekelilingmu, karena mereka sangat haus dengan ilmu.. jangan takut salah untuk menyampaikan.. cobalah, cobalah, dan cobalah.... dan ketika hendak memberikan ilmu itu... sampaikanlah dandengan hati, karena insyaalloh itu akan sampai pada hati pula.. berlidunglah pada ALLOH agar dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dihindarkan dari kekeluan lidah ketika kita menyampaikan ilmu....
Selamat mencoba.. :)
readmore »»  

Senin, 23 November 2009

ANDAI KUBERIKAN SEMUANYA ( sebuah penyesalan yang indah )

Seperti biasa ketika hari Jum’at tiba para kaum lelaki berbondong-bondong menunaikan ibadah Sholat Jum’at ke Masjid, ketika itu ada seorang Sahabat sedang bergegas menuju ke Masjid di tengah jalan berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya, lalu sahabat ini dengan sabar dan penuh kasih membimbingnya hingga tiba di masjid.
Pada hari yang lain ketika waktu menjelang Shubuh dengan cuaca yang amat dingin, Sahabat tersebut hendak menunaikan Jama’ah Sholat Shubuh ke Masjid, tiba-tiba ditengah jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan, kebetulan Sahabat tadi membawa dua buah mantel, maka ia mencopot mantelnya yang lama untuk diberikan kepada lelaki tua tersebut dan mantelnya yang baru ia pakai

Pernah juga pada suatu ketika Sahabat tersebut pulang ke rumah dalam keadaan sangat lapar, kemudian sang istri menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging, namun tiba-tiba ketika hendak memakan roti yang sudah siap santap untuk dimakan tadi datanglah seorang musafir yang sedang kelaparan mengetuk pintu meminta makan, akhirnya roti yang hendak beliau makan tersebut dipotong menjadi dua, yang sepotong diberikan kepada musafir dan yang sepotong lagi beliau memakannya.

Maka ketika Sahabat tersebut wafat, Rosulullah Muhammad SAW datang, seperti yang telah biasa dilakukan beliau ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rosulullah berkata,” Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”

Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal” “Apa yang di katakannya?” “saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum wafat, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."

“Bagaimana bunyinya?” desak Rosulullah.

Istri yang setia itu menjawab, “suami saya mengatakan “Andaikata lebih panjang lagi……andaikata yang masih baru..…. andaikata semuanya…….”
hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”

Rosulullah tersenyum.”sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,”ujarnya.

Jadi begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun.

Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan betapa luar biasanya pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “andaikan lebih panjang lagi”. Maksud suamimu, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.

Ucapan lainnya ya Rosulullah?” tanya sang istri mulai tertarik.

Nabi menjawab,”adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan.

Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.

Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”.Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?” tanya sang istri makin ingin tahu.

Dengan sabar Nabi menjelaskan,”ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan.

Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘ kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

Sabahatku, coba kita lihat apa kata Al-Qur’an :
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”. (Al-Isra:7)

Mungkin Anda yang kritis akan bertanya, kok Rosulullah tahu masa lalu Sahabat tersebut ya ? , Karena posisi Rosulullah SAW sudah berada di PUSAT INFORMASI, kita pernah mendegar pepatah modern ‘ Siapa yang menguasai informasi, dialah yang paling berkuasa di dunia ini’, maka sangat pantas dan wajar kalau Islam pada waktu itu barkuasa karena kepada negaranya berada di PUSAT INFORMASI, apakah kita bisa sampai ke Pusat Informasi itu? tentu saja bisa, karena Rosulullah adalah manusia biasa seperti kita, dan kitapun bisa copy paste karateristik beliau. Jadi kalau kita ingin berada di PUSAT INFORMASI kita harus berupaya memeras tenaga dan fikiran untuk mengcopy paste Karateristik Rosulullah SAW
readmore »»  

Jumat, 13 November 2009

Cinta, sebenar-benar cinta...

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan
mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan
khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta
kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara
pada kalian, Al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku,
bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk
syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan
mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu
persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun
menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat
kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di
dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas
menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari
mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti
akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang
di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang
berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan
salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya
masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan
badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah
anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan
kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah
malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril
tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya
sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu
dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya
Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah
terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar
menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan
Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang
mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana
nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja,
kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau
melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah
direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian
maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.
"Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak
lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera
mendekatkan telinganya "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku",
peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke
bibir Rasulullah yang mulai kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" -
"Umatku, umatku, umatku" Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi
sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli
'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada
kita.
readmore »»